KEAMANAN
PANGAN
Nama Penulis : I
Km. Triyana Artha Putra
Dewasa ini, sektor pariwisata adalah salah satu
sumber devisa dan sebagai lahan penghasilan masyarakat Indonesia. Untuk dapat
memaksimalkan hal tersebut, setiap upaya perkembangan dan pertumbuhan di sektor
ini perlu digalakkan. Salah satu daerah yang memerlukan perhatian adalah Bali. Kedatangan wisatawan mancanegara
(wisman) ke Bali pada bulan Desember 2016 mencapai 442.795 kunjungan dengan
wisman yang datang melalui bandara sebanyak 437.946 kunjungan, dan yang melalui
pelabuhan laut sebesar 4.849 kunjungan. Jumlah wisman ke Bali pada bulan
Desember 2016 naik sebesar 19,47 % dibandingkan dengan bulan Desember 2015. Hal
ini sejalan apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang juga mengalami
kenaikan sebesar 7,15%. Sektor pariwisata diharapkan menjadi salah satu devisa
terbesar di Indonesia, khusunya di Bali.
Untuk
menunjang kenaikan wisman di Bali diperlukan perhatian khusus di di bidang
pangan dan lingkungan. Salah satunya adalah kesehatan pangan dan lingkungan. Jika
kesehatan pangan tidak terjamin dan kesehatan lingkungan pun tidak memenuhi
standar maka akan menyebabkan ketidaknyamanan pengunjung hingga menimbulkan
penyakit. Hal ini menyebabkan waktu liburan para wisman di bali tidak akan
berlangsung lama. Hal ini beralasan, sebab pada tahun 2016 lalu, sudah terjadi
wabah penyakit flu burung. Ribuan unggas dan ayam potong
maupun ayam kampung akhirnya dimusnahkan karena mati secara tiba-tiba guna
menghindari penyebaran penyakit flu burung di daerah Bali. Selain itu,
kesehatan saat berpariwisata juga dimulai sejak dari rumah, di perjalanan,
sampai di tempat tujuan, dan kembali lagi ketempat asalnya. Maka dengan
demikian, wisatawan pun tidak akan jera untuk kembali mengunjungi daerah yang
telah dikunjunginya, terutama di Bali. Ini terjadi karena upaya pencegahan
dimulai sebelum melakukan perjalanan.
Pencegahan dilakukan mulai dari titik awal
perjalanan wisata para wisman, yaitu wisatawan diberi informasi oleh biro
wisata melalui brosur yang telah disediakan di biro perjalanan mengenai
kesehatan perjalanan dan di daerah tujuan. Upaya pengobatan dimulai saat di perjalanan dan di daerah
tujuan dengan mengusahakan sarana obat-obatan yang memadai, sesuai standar yang
diperlukan, mudah, dan cepat, serta tepat. Jika wisatawan jatuh sakit atau
kecelakaan dan pengobatan kurang memadai, pasien akan dibawa ke rumah sakit terdekat
secepatnya.
Di sisi
lain, selain pengobatan untuk menangulagi kesehatan wisman, di Bali telah dibentuk organisasi PHRI (Perhimpunan Hotel
dan Restoran Indonesia), ASITA (Associations of The Indonesian Tours and
Travel) dan yang sejenisnya demi melayani
dan memberi jaminan kenyamanan dan keamanan untuk berwisata di Bali. Upaya
perlindungan kesehatan terhadap wisatawan tidak hanya bersifat mental, fisik,
atau emosional,tetapi terdapat upaya perlindungan kesehatan terhadap wisatawan lain
yang meliputi empat sector sebagai berikut:
1. Makanan dan minuman yang sehat
sehingga tidak mengganggu pencernaan;
2. Tempat wisata yang aman sehingga
tidak menimbulkan kecelakaan;
3. Suasana yang nyaman tanpa adanya terror;
4. Wisatawan mendapat kesehatan yang
memenuhi standar.
Pada
sektor makanan, rendahnya kualitas makanan cenderung berkaitan dengan rendahnya
tingkat pendidikan maupun pengetahuan dari penjamah makanan yang menanganinya.
Oleh sebab itu, rumah makan sebagai sarana tempat umum harus memerlukan standar
kesehatan yang memenuhi syarat agar tidak didapati makanan yang disajikan mengandung
E. Coli, tangan penjamah makanan tercemar sehingga makanan mengandung
Staphyloccocus aerus, Coli pathogen, dan zat negatif lain. Penjamah makan
setidaknya harus mentaati proses pengelolaan makanan dengan enam prisnsip
pengelolaan makanan yang baik dan benar sebagi berikut:
1. Keadaan
bahan makanan yang sehat dan higienis:
2. Cara
penyimpanan bahan makanan benar;
3. Cara
pengolahan yang sesuai dengan anjuran;
4. Cara
pengangkutan makanan yang telah masak dengan baik;
5. Cara
penyimpanan makanan masak yang aman dari hal-hal negatif;
6. Cara
penyajian makanan masak tidak hanya menarik, tetapi efektif.
Selain
beberapa langkah terkait dengan kesehatan pangan di atas, terdapat langkah lain
bernama sanitasi makanan. Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan
yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan
makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu kesehatan. Hal ini
dimulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan, dan makanan
dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada konsumen. Tujuan sanitasi
makanan adalah untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, serta mencegah
konsumen dari penyakit.
Penjamah makanan memiliki peranan sangat besar dalam
menularkan penyakit. Banyak infeksi yang ditularkan melalui penjamah makanan,
antara lain Staphylococcus aureus ditularkan melalui hidung, kuman Clostridium
perfringens dari tenggorokan, dan Faecul
streptococcus beserta Salmonella dapat ditularkan melalui kulit. Oleh sebab
itu, penjamah makanan harus selalu dalam keadan sehat dan terampil. Penjamah
makanan harus terbiasa berprilaku sehat selama bekerja. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan penjamah makanan yaitu mencuci tangan, kuku, pakaian, memakai topi
penutup rambut, masker penutup mulut dan hidung, serta yang lainnya.
Hal di atas sangat wajib dilakukan mengingat makanan
dan minuman yang sehat sangatlah penting untuk kesehatan wisatawan. Selain
menikmati destinasi wisata, wisatawan juga turut mencicipi wisata makanan, baik
makanan internasional maupun trasional. Dari dua jenis makanan tersebut,
makanan tradisonallah yang yang paling diminati. Makanan tradisional adalah
makanan yang lahir tradisi dan kebudayaan Bali dan menjadi salah satu warisan nenek
moyang Bali. Adalah lawar, salah satu manakan tradisonal Bali. Makanan ini adalah
makanan setengah matang dan diolah dengan menggunakan tangan. Fenomena
pengolahan dengan tangan ini sebenarnya berbahaya bagi penikmat makanan itu. Sebaiknya,
makanan ini dapat diolah lebih higienis dengan tanpa tersentuh tangan secara
langsung. Artinya, dengan menggunakan sarung tangan ksusus makanan.
Makanan tradisonal Bali sangat erat dengan
penggunaan garam. Hal ini juga cenderung melanggar sanitasi makanan. Kelebihan
garam dapat menyebabkan menurunnya keseimbangan kalsium, penyaebabkan penyakit
darah tinggi, hingga memicu penyakit jantung. Terlalu banyak natrium yang
dikonsumsi menyebabkan menumpuknya cairan tubuh orang terutama dalam sel darah
sehingga rentan dengan menimbulkan peningkatan volume darah. Jika volume darah
meningkat, semakin meningkat pula kinerja yang harus diperlukan jantung.
Akibatnya, terjadilah gagal ginjal. Sudah semestinya penggunaan garam dikurangi
dalam makanan tradisonal yang saat ini masih menjadi makan primadona kalangan
wisman.
Jika pencegahan ini diterapkan, konsumen tidak akan
ragu untuk mengonsumsi dan terhidar dari penyakit. Selain itu, wisatawan berbelanja diharapkan untuk
memeriksa data produk seperti data kedaluarsa. Jika tidak menemukan data
kedaluarsanya, dapat dilihat dari makanan itu sendiri yang mencakup bau makanan
sudah tidak sedap, ditumbuhi jamur, mudah hancur, dan tampilan warna berubah
dari aslinya. Itu artinya makanan sudah tidak layak dikonsumsi. Hal ini perlu
dilakukan karena akhir-akhir ini, banyak kios-kios maupun swalayan yang menjual
produk tidak layak konsumsi. Hal seperti ini harus ditindaklanjuti dengan cepat. Jik tidak, bisa merugikan bagi
konsumen. Penggunaan es batu yang kurang higienis (seperti penggunaan air
mentah/langsung dari kran) juga tidak sedikit dilakukan oleh penjual minuman
minuman jus, sirup, dan sejenisnya. Ini dapat menyebabkan konsumen yang
meminumnya terkena penyakit, seperti diare. Karena air yang belum dimasak
rentan terhadap bakteri. Pedagang harus lebih mengutamakan kualitas, karena
jika kualitas bagus maka akan banyak peminatnya. Hal ini juga memberikan efek
positif bagi pedagang karena diuntungkan . Selain itu, dalam menjual makanan
diharapkan saat menambahkan bumbu, sebaiknya lebih sedikit menambahkan penyedap
rasa (MSG). Jika terlalu banyak, ini juga akan mengganggu pencernaan konsumen,
daya ingat akan turun, kinerja otak akan melemah, menyebabkan penyakit Chinese
restaurant syndrome gejalanya meliputi, leher dan dada panas, sesak napas, disertai pusing-pusing.
Jika semua hal-hal di atas diterapkan pasti
kesehatan konsumen akan tetap terjaga dan terhindar dari berbagai penyakit.
Selain itu, tidak hanya pengunjung atau konsumen yang harus teliti dalam mengonsumsi
makanan dan minuman, namun pedagang dan pemerintah harus sangatlah teliti dalam
berbagai hal seperti ini. Pemerintah berkewajiban untuk menjamin pangan dan
makanan masyarakat agar tersedia setiap waktu, aman, bermutu, bergizi, dan
beragam dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Pemerintah juga
harus melibatkan warga demi kenyamanan dan keamanan pangan di daerah Bali.
Pemerintah harus lebih tegas lagi dan berpikir matang -matang untuk mengambil
tindakan karena kenyamanan dan keamanan wisatawan sangat penting hal ini demi
menjaga keamanan pulau bali ini dari bahan berbahaya bukan hanya tugas sektor
kesehatan saja namun juga, melibatkan lintas sektor terkait seperti BPOM ( ), karena itu koordinasi dan integrasi
dalam pelaksanaan kegiatan sangat diperlukan. Namun yang terpenting adalah
masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup sehingga dalam dapat memilih makanan
yang aman dan bermutu. Masyarakat juga harus terlibat dalam menjaga keamanan
pangan di Bali. Begitu juga pedagang dan swalayan harus berpikir matang-matang,
jangan sampai karena suatu kesalahan kecil bisa menimbulkan banyak masalah.
Pedagang harus memikirkan kepuasan pelanggan atau konsumen. Kualitas barang
lebih penting daripada yang lainnya. Pedagang juga tidak diperkenankan
menambahkan pengawet, cemaram pathogen, dan bahan kimia lainnya. Pengetahuan dan
keterampilan pedagang dalam pengendalian faktor risiko keamanan pangan sangat
dituntut. Usaha untuk meminimalisasi dan menghasilkan
kualitas makanan yang memenuhi standar kesehatan dilakukan dengan menerapkan
prinsip-prinsip sanitasi. Sehingga, mengurangi segala resiko buruk yang
ditimbulkan oleh keamanan pangan seperti keracunan makanan. Sangatlah penting
dan perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat
menganggu atau merusak kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama
dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat makanan
dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada konsumen. Dengan sinergi
antarberbagai pihak yang berkepentingan, maka kesehatan pangan tidak perlu
dikhawatirkan lagi sehingga para wisman pun lebih meminati pariwisata di Bali.
DAFTAR
PUSTAKA
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2012-2-00816-HM%20Bab2001.pdf
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22193/4/Chapter%20II.pdf
https://www.scribd.com/doc/41381572/Kesehaan-pariwisata
bali.tribunnews.com
Comments
Post a Comment