BALIKU EMPAT WARNA
Pada suatu hari, ada
dua orang mahasiswa dari sebuah Universitas Hindu di Bali yang ingin
mewawancarai seorang brahmana. Daerah tempat tinggal bramana tersebut sangat
padat kendaraannya sehingga mereka memilih untuk berjalan kaki. Rumah brahmana
itu pun tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Perjalanan menuju
rumah brahmana nampaknya membuat mereka merasa kelelahan. Apalagi ditambah
cuaca yang panas. Mereka pun memutuskan untuk mencari minum. Kebetulan sekali
di dekat sana ada penjual minuman dingin. Tanpa berpikir panjang lagi, mereka
langsung menuju dagang tersebut dan membeli minum. Setelah rasa lelah mereka
terbayarkan, mereka melanjutkan perjalanannya menuju rumah brahmana.
Perjalanan mereka
hampir selesai. Rumah brahmana sudah ada di depan mata mereka. Namun sayangnya
rumah brahmana itu terletak di seberang jalan. Jalanan yang begitu padat
membuat mereka susah menyebrang. Tetapi untung saja ada polisi yang mengatur
lalu lintas disana. Dan membantu mereka untuk menyebrang menuju rumah brahmana.
Akhirnya mereka sampai
di depan rumah brahmana itu. Mereka merasa takut dan gugup untuk masuk ke rumah
itu. Banyak alasan alasan yang di lontarkan mereka. Karena mereka terdengar
sangat ribut, seorang perempuan keluar dari rumah itu. Seorang perempuan itu
menanyakan tentang kedatangam mereka. Setalah menjelaskan bahwa mereka adalah
seorang mahasiswa yang ingin melalukan wawancara, perempuan itu meperkenankan
mereka untuk masuk.
Mereka dipersilahkan
untuk duduk sambil menunggu perempuan itu memanggil brahmana. Tak lama
kemuadian seorang brahmana dan istrinya datang menghampiri mereka. Dengan
ramahnya memberikan senyum kepada kedua mahasiswa tersebut. Seorang perempuan
kembali datang untuk membawakan jamuan kepada mahasiswa.
Dengan sedikit basa
basi, mereka mulai mewawancarai brahmana itu. Pertanyaan demi pertanyaan mereka
lontarkan. Satu persatu pertanyaan tersebut dijawab dengan baik.
Apa yang menjadi
tujuan mereka akhirnya bisa tercapai. Antara kasta dan catur varna dalam agama
hindu sudah mereka ketahui. Tak lupa juga mereka mengucapkan terimakasih kepada
brahmana itu atas ilmu yang sudah diberikan.
PERBEDAAN CATUR VARNA
DAN KASTA
Dari dulu hingga sekarang banyak yang mengatakan kasta identik
dengan agama Hindu. Bahkan orang-orang yang tidak mengerti kasta berbicara
kasta sebagai pengelompokan masyarakat dalam Hindu padahal ini jelas-jelas
salah dan tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggung jawabkan.
kalau kasta pengelompokan masyarakatnya
berdasarkan keturunan misalkan kalau seorang anak lahir dari seorang raja maka
secara otomatis anak dikelompokkan dalam kasta ksatria walaupun profesinya saat
ini sebagai pedagang. Sistem Warna dalam ajaran Hindu status seseorang dapat
disesuaikan dengan pekerjaan/profesinya. Dalam konsep tersebut diuraikan
bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra (budak) ataupun Waisya
(pedagang), apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta,
maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang
tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu
profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.
Dalam
tradisi Hindu, Jika seseorang ahli dalam bidang kerohanian maka ia menyandang
status Brāhmana. Jika seseorang ahli atau menekuni bidang administrasi
pemerintahan ataupun menyandang gelar sebagai pegawai atau prajurit negara,
maka ia menyandang status Ksatriya. Apabila seseorang ahli dalam perdagangan,
pertanian, serta profesi lainnya yang berhubungan dengan niaga, uang dan harta
benda, maka ia menyandang status Waisya. Apabila seseorang menekuni profesi
sebagai pembantu dari ketiga status tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya), maka
ia menyandang gelar sebagai Sudra.
Dari
penjabaran diatas maka dapat disimpulkan bahwa kasta harus dibedakan dari warna
atau Catur Warna (Hindu), karena memang pengertian di antara kedua istilah ini
tidak sama. Pembagian manusia dalam masyarakat agama Hindu:
1.
Warna Brahmana, para pekerja di bidang spiritual ; sulinggih,
pandita dan rohaniawan.
2.
Warna Ksatria, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan.
3.
Warna Waisya, para pekerja di bidang ekonomi
4.
Warna Sudra, para pekerja yang mempunyai tugas melayani/membantu
ketiga warna di atas.
Comments
Post a Comment