KATA PENGANTAR
Om
Swastyastu
Segala puji bagi Tuhan
yang Maha Esa yang
telah memberikan penulis kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya penulis tidak akan sanggup untuk
menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan
yang Maha Esa
atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul “Sejarah
Pura Besakih Beserta Dewa Yang Berstana”.
Penulis tentu menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan
serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta
saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada
makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.
Semoga makalah ini
dapat bermanfaat. Terima kasih.
Denpasar, 13 Januari
2021
Penulis
DAFTAR ISI
A. Pembahasan Sejarah Pura Besakih
B. Para Dewa Yang Berstana Di Pura
besakih
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bagi masyarakat Bali Pura Besakih
adalah huluning jagat Bali atau ‘Kepalanya Pulau Bali’. Kepala merupakan bagian
yang paling atas dari struktur tubuh seorang manusia normal. Kepala memiliki
kedudukan yang sangat penting, yang oleh orang Bali disebut sebagai tempat
Siwadwara, yaitu sebagai pintu masuk dan keluarnya roh yang Maha Agung (Siwa)
secara mistis melalui ubun-ubun.
Kawasan Pura Besakih adalah
komplek pura terbesar di Bali, dikenal juga dengan nama pura Ibu. Disinilah pusat kegiatan berbagai
upacara agama Hindu berlangsung. Setiap berdirinya sebuah pura terutama Kahyangan
Jagat, apalagi pura terbesar di Bali seperti Besakih, tentu ada latar
belakang atau sejarah yang melatar belakangi
berdirinya. Selain
untuk mengetahui lebih jelas tentang latar belakang atau sejarah berdirinya
pura Besakih, adapun bahasan tentang siapa Dewa yang berstana di pura besakih
tersebut
Agama Hindu merupakan agama tertua
di Indonesia, bahkan di dunia, tentu ada kisah-kisah menarik dalam sejarah
berdirinya tempat suci tersebut. Seperti halnya juga sejarah tentang berdirinya
pura Besakih, ada kisah yang cukup menarik dari perjalanan dari seorang Maharsi
Hindustan yang datang ke Bali. Pura ini adalah salah satu pura tua dari jaman
Bali kuno, yang keberadaanya sekarang ini menjadi destinasi wisata dan tujuan
tour populer di wilayah Bali Timur.
B.
Rumusan masalah
1.
Bagaimana
sejarah berdirinya pura Besakih ?
2.
Siapa
saja Dewa – Dewa yang berstana di pura Besakih ?
C.
Tujuan
1.
Mendeskripsikan
tentang sejarah pura Besakih
2.
Mendeskripsikan
Dewa – Dewa yang berstana di pura Besakih
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pembahasan Sejarah Pura Besakih
Berdirinya Pura Besakih
yang terletak di lereng Gunung Agung, desa Besakih, Kecamatan Rendang,
Kab.Karangasem ini, berawal dari perjalanan dari Rsi Markandya, seorang yogi
atau pendeta Hindu Siwa Tatwa yang berasal dari tanah India Selatan. Karena ketinggian ilmu
bhatinnya ,kesucian rohaninya,serta kecakapan dan kebijaksanaan beliau maka
oleh rakyat,beliau diberi julukan Bhatara Giri Rawang.
Mulanya beliau bertapa
di Gunung Demulung, sekian waktu kemudian beliau bertapa ke Gunung
Hyang, namun demikian banyak mahluk halus mengganggu
pertapaan sang rsi, untuk itulah beliau pergi dan beranjak menuju ke arah Timur
dan sampailah di lereng Gunung Raung.
Di gunung Raung inilah beliau
bertapa lagi, dan disinilah beliau mendapatkan wahyu berupa suara gaib dan berkas
sinar terang yang tampak dari arah Timur. Dari sini tampak
deretan pegunungan berjejer memanjang dari Barat ke Timur. Pulau sebelah Timur
Jawa ini yang sekarang dikenal dengan pulau Bali.
Sesuai wahyu yang didengar dan
dilihat, Rsi Markandeya datang ke Bali dengan menyebrangi Selat Bali, sang Rsi diiringi oleh
400 orang pengikut, perjalanan langsung menuju ke arah gunung Toh
Langkir, sampai di lereng gunung yang masih hutan belantara, sang Rsi dan
pengikutnya mulai membabat hutan untuk membuka lahan sebagai areal pertanian.
Namun misi beliau gagal karena banyak pengikutnya yang meninggal karena sakit,
kejadian misterius dan dimangsa binatang buas. Sebagai seorang yogi dan
pertapa, beliau mengetahui bahwa ada kekuatan atau aura misterius yang menguasai
pulau tersebut.
Kemudian Rsi Markandeya kembali
lagi ke gunung Raung untuk melakukan tapa dan minta petunjuk kepada sang
Pencipta, maka didapatkanlah wangsit untuk melakukan upacara yadnya sebelum
merambah hutan di lereng gunung pulau Dawa tersebut. Kemudian Rsi Markandeya
kembali lagi ke pulau Dawa untuk merambah hutan dengan membawa pengikut yang
berasal dari desa Aga
yang merupakan penduduk kaki gunung Raung.
Namun sebelum memulai pekerjaan, Rsi Markandya beserta para pengikutnya melakukan yoga samadhi ,weda
samadhi,melakukan upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya serta Pratiwi Stawa
disertai doa penolak seluruh hama dan juga beliau menanam 5 unsur logam atau
panca Datu diantaranya emas, perak, tembaga, perunggu, besi, dan disertai
dengan Mirah Adi dengan disertai sarana upakara selengkapnya dan diperciki Tirta
Pangentas ( air suci ),
agar mereka selamat dalam melakukan pekerjaan merambah hutan di lereng Gunung
Agung. Dan ternyata dalam melakukan pekerjaan merambah hutan tersebut tidak ada
bencana lagi. Mungkin ini dasar umat Hindu saat ini, selalu melakukan upacara
yadnya sebelum membuka lahan baru baik itu untuk rumah, sawah ataupun tegalan,
dan untuk pura menanam lima unsur logam Panca Datu.
Setelah dianggap cukup, perambahan
hutan selesai, tanah dibagikan kepada pengikutnya baik itu untuk sawah, tegalan
untupun rumah. Pada saat Rsi Markandeya berada di ketinggian gunung Toh Langkir
tersebut, beliau menyadari bahwa pulau Dawa tersebut tidaklah sepanjang yang
diperkirakan sebelumnya, kemudian menggantinya dengan nama “Bali” berasal dari
kata “Wali”.
Perlu diketahui bahwa Wali
berarti persembahan suci. Selanjutnya pada masa kini
persembahan atau upacara suci tersebut dikenal dalam bentuk banten yang dibawa
warga umat ke pura saat melakukan persembahyangan.
Selajutnya kawasan Toh Langkir ini
dikembangkan, dan diberi nama Basuki, kemudian menjadi Besakih
yang artinya selamat. Sedangkan tempat Rsi Markandeya melakukan upacara
persembahan dan menanam Panca Datu dikenal dengan nama Pura Besakih. Awalnya
dari sebuah pelinggih kemudian didirikan pura bernama Basukian, kemudian pura tersebut
terus berkembang, pembangunan dilakukan secara bertahap, sehingga menjadi
komplek pura terbesar yang sekarang dikenal dengan nama Pura Besakih.
B.
Para Dewa Yang Berstana Di Pura besakih
1.
Ratu
Sula Majemuh (Dewa penguasa cuaca, untuk memohon cuaca cerah). Stana berupa
bebaturan / tugu capah. Terletak di teras II kompleks Penataran Agung Besakih.
2.
Ratu
Kubakal / I Dewa Basa / Sanghyang Tapapita. Stana berupa meru tumpang 9, di
teras II Penataran Agung Besakih. Tempat memohon air suci untuk ngingsah saat
upacara Betara Turun Kabeh.
3.
Ratu
Manik Maketel diidentikkan dengan Bhatara Rambut Sedana / Dewa kekayaan. Stana
berupa meru tumpang 11 di sebelah Ratu Kubakal.
4.
Sanghyang
Siyem dan Sanghyang Majalila terletak di sebelah kiri dari padma tiga Penataran
Agung Besakih, di teras II kompleks Pura Penataran Agung Besakih.
5.
Ratu
Maspahit. Stana berupa Meru tumpang 11, di teras III komplek penataran Agung
Besakih. Disebut juga Ratu Mas, diidentikkan dengan Betara Candra / Wulan /
Dewi Bulan. Tempat memohon tirtha sanjiwani / merta sanjiwani.
6.
Ratu
Geng / Ratu Lingsir (penguasa hebat / penguasa tertua). Stana berupa meru
tumpang 7, di teras III Penataran Agung Besakih. Disebut juga I Dewa Tureksa
(pengawas) dan I Dewa Pangandika (juru bicara).
7.
Ratu
Sakti, berupa bangunan sederhana terbuka, terdapat patung resi dan seseorang
menunggang kuda yang diidentikkan dengan Mpu Kuturan.
8.
Ratu
Ulang Alu (Dewa Pedagang Keliling), diidentikkan dengan Ratu Ayu Subandar. Di
teras IV Penataran Agung Besakih.
9.
Ratu
Sunaring Jagat. Stana berupa meru tumpang 11 di teras IV Penataran Agung
Besakih. Dewa Cahaya Dunia, disebut juga I Dewa Atu / Betara Siwa Nyaturmuka /
Betara Siwa Nyakra Bhuwana / Betara Guru.
10. Ratu Ayu Magelung. Stana berupa
meru tumpang 3, teras V Penataran Agung Besakih. Dewanya para pregina atau
seniman.
11. Sanghyang Wisesa. Stana berupa
tumpang 11, teras ke V. Disebut juga Bhatara Raditya, Dewa Matahari.
12. Ratu Bukit. Stana berupa Gedong
Kiwa dan Gedong Tengen (kanan kiri). Di teras ke VI (teras paling atas)
Penataran Agung Besakih. Sering disebut I Dewa Bukit Kiwa dan I Dewa Bukit
Tengen / Ratu Pucak Kiwa Tengen.
13. Dewa Batu Madeg. Stana berupa meru
tumpang 11 di komplek Pura Batu Madeg. Disebut pula I Dewa Manik Gumawang. I
Dewa Batu Madeg saat ini diidentikkan dengan Dewa Wisnu.
14. Betara Kelabang Akit. Linggih
berupa bebaturan di Pura Batu Madeg. Diidentikkan dengan Betara Pertiwi.
15. Ratu Hidung Lantang, sebutan untuk
Dewa Gana / Ganesa. Linggih berupa bebaturan di Pura Batu Madeg.
16. Ida Ratu Bagus Cili. Stana berupa
meru tumpang 11 di Pura Kiduling Kreteg. Penguasa tikus, dalam kaitan dengan
pertanian.
17. Ratu bagus Bulusan. Stana berupa
meru tumpang 7 di Pura Kiduling Kreteg. Penguasa burung dalam kaitan dengan pertanian.
18. Ratu Bagus Swa, penguasa
Balangsangit, dalam kaitannya dengan pertanian. Berupa meru beratap 5 di Pura
Kiduling Ktereg.
19. Dewa Rabut Palah / I Dewa Kiduling
Kreteg, sekarang diidentikkan sebagai Dewa Brahma. Berupa meru tumpang 11 di
Pura Kiduling Kreteg.
20. Dewa Gelap / I Dewa Geni / Ida
Ala-Ayu Gumi Akasa, sekarang diidentikkan sebagai Dewa Iswara di Pura Gelap.
21. Dewa Pengubengan / Betara Sapta
Akasa. Diidentikkan dengan Dewa Gunung Agung. Berupa meru tumpang 11 di Pura
Pengubengan.
22. Dewa Peninjoan Teranggana, berupa
meru tumpang 9 di Pura Peninjoan, berada di atas bukit Ootan di sebelah barat
Pura Batu Madeg. Tempat melihat bintang-bintang (tranggana).
23. Dewa Manik Melekah diidentikkan
dengan Dewi Sri, stana berupa gedong di Pura Banua.
24. Dewa Ulun Kulkul, sekarang
diidentikkan dengan Dewa Mahadewa. Berupa gedong di Pura Ulun Kulkul.
25. Dewa Bangun Sakti diidentikkan
dengan Naga Batara Anantabhoga. Berupa gedong di Pura Bangun Sakti.
BAB
III
PENUTUP
C.
Kesimpulan
Pura Besakih
berkaitan dengan kedatangan Rsi Markandeya ke Bali dan bisa disimpulkan bahwa
Besakih didirikan oleh Rsi Markendya dengan para pengikutnya
yang mendapat pawisik dari Tuhan dan kemudian beilau membangun pura Besakih
dengan menanam Panca Datu dan yadnya yang dimaksudkan untuk keselamatannya dan
para pengikutnya, dari sini juga dapat disimpulkan bahwa sebelum membangun,
atau sejenisnya disarankan untuk beryadnya terlebih dahulu seperti apa yang Rsi
Markendya lakukan sebagai umat Hindu. Pura Besakih sekarang menjadi tempat pertama leluhur
orang-orang di Bali menginjakkan kakinya di pulau Bali, sehingga pura Besakih
merupakan salah satu pura tua dan kuno di pulau Bali.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.balitoursclub.net/sejarah-pura-besakih/
https://crown764.wordpress.com/2020/08/29/sebutan-kuno-para-dewa-yang-berstana-di-pura-besakih/
http://inputbali.com/budaya-bali/sejarah-berdirinya-pura-terbesar-di-bali-pura-besakih
https://id.wikipedia.org/wiki/Pura_Besakih
Comments
Post a Comment