A. Tata Cara Penyusunan IT
Bagi perusahaan modern, memiliki strategi bisnis saja tidak cukup untuk
menghadapi persaingan dewasa ini. Strategi bisnis yang biasa dituangkan dalam
dokumen atau cetak biru Business Plan harus pula dilengkapi dengan strategi
teknologi informasi atau I/T Strategy. Tujuannya jelas, yaitu untuk
memanfaatkan secara optimum penggunaan teknologi informasi sebagai komponen
utama sistem informasi perusahaan (sistem yang terdiri dari komponen-komponen
untuk melakukan pengolahan data dan pengiriman informasi hasil pengolahan ke
fungsi-fungsi organisasi terkait). Mengapa strategi perlu dibuat?
Pertama adalah karena sumber daya yang dimiliki perusahaan sangat
terbatas, sehingga harus digunakan seoptimal mungkin. Kedua untuk meningkatkan
daya saing atau kinerja perusahaan, karena para kompetitor memiliki sumber daya
teknologi yang sama. Alasan ketiga adalah untuk memastikan bahwa asset
teknologi informasi dapat dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung
meningkatkan profitabilitas perusahaan, baik berupa peningkatan pendapatan atau
revenue maupun pengurangan biaya-biaya atau costs. Keempat adalah untuk
mencegah terjadinya kelebihan investasi (over investment) atau kekurangan
investasi (under investment) di bidang teknologi informasi. Dan alasan terakhir
adalah untuk menjamin bahwa teknologi informasi yang direncanakan dan
dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan bisnis perusahaan akan informasi.
Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan untuk
menghasilkan sebuah I/T Strategy yang baik? Berikut adalah
penjelasan-penjelasannya. Output yang diinginkan adalah sebuah strategi yang
mencakup tiga hal pokok:
1. Sistem Informasi – merupakan definisi secara
jelas dan terperinci sehubungan dengan jenis-jenis informasi apa saja yang
dibutuhkan oleh perusahaan dan hal-hal yang berkaitan dengannya (kecepatan
proses pengolahan data menjadi informasi, tingkatan detil informasi, cara
menampilkan informasi, volume dan transaksi informasi, penangung jawab
informasi, dan lain sebagainya).
2. Teknologi Informasi – meliputi
komponen-komponen perangkat keras (komputer, infrastruktur, alat komunikasi,
dll.) dan perangkat lunak (aplikasi, sistem operasi, database, dll.) yang harus
tersedia untuk menghasilkan sistem informasi yang telah didefinisikan.
3. Manajemen Informasi – menyangkut perangkat
manusia (brainware) yang akan mengimplementasikan sistem informasi yang
dibangun dan mengembangkan teknologi informasi sejalan dengan perkembangan
perusahaan di masa mendatang.
Untuk setiap domain atau hal pokok di atas, akan dianalisa dan
diusulkan beberapa skenario atau pilihan (options), dimana setiap skenario
memiliki variabelnya masingmasing seperti biaya (costs), manfaat (benefits),
resiko (risks), dampak (impacts), tingkat kesulitan (complexity), hambatan
(constraints), dan hal-hal terkait lainnya. Beberapa skenario ini kemudian
diajukan dalam rapat para pimpinan manajemen untuk dibahas secara mendetail
dengan tujuan tunggal untuk memilih skenario terbaik. Jika pembuatan IT
Strategy melibatkan pihak ketiga seperti konsultan misalnya, ada baiknya
dimintakan pendapat obyektif mereka (rekomendasi). Setelah skenario terbaik
berhasil ditentukan, maka langkah terakhir adalah membuat rencana implementasi
yang didasarkan pada manajemen proyek (project management). Melihat bahwa akan
terjadi pengembangan beberapa modul sistem, maka harus dibedakan proyek-proyek
jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang ditentukan melalui
analisa nilai kepentingan atau skala prioritas. Jadwal pengembangan proyek
inilah yang akan menjadi pegangan dalam setiap pengembangan teknologi informasi
di perusahaan.
Untuk menghasilkan output yang berkualitas dengan karakteristik di
atas, berbagai hal harus dilakukan, menyangkut masukan (input) yang dibutuhkan
oleh tim penyusun IT Strategy dan proses analisa yang harus dilakukan.
Setidak-tidaknya harus ada lima input utama sebagai langkah awal penyusunan IT
Strategy:
l Business Strategy
l Business Trends
l Competitor Analysis
l I/T Trends
l Existing I/T
Business Strategy merupakan dokumen yang harus dijadikan landasan
berpijak utama dalam pembuatan I/T Strategy karena dalam dokumen tersebut
disebutkan visi dan misi perusahaan beserta target kinerja masing-masing fungsi
pada struktur organisasi. Di dalam dokumen ini pula ditegaskan peranan
teknologi informasi yang sesuai dengan strategi perusahaan (ingat bahwa untuk
setiap perusahaan sejenis, posisi teknologi informasi dapat berbeda), sehingga
filosofi yang digunakan dalam pengembangan I/T Strategy harus sesuai dengannya.
Business Trends adalah segala hal yang berhubungan dengan kecenderungan
polapola bisnis yang akan terjadi di masa mendatang sehubungan di sebuah
industri tertentu. Contohnya dalam industri keuangan seperti bank, asuransi,
dan sekuritas. Ada kecenderungan bahwa di masa depan, ketiga entiti bisnis yang
biasa terpisah ini akan bergabung menjadi sebuah perusahaan keuangan multi
fungsi di mana produk-produk dan jasa pelayanan yang diberikan dapat beragam.
Contoh lain adalah di industri pariwisata yang melibatkan perusahaan-perusahaan
transportasi (darat, laut, dan udara), hotel, lokasi wisata, taman-taman
hiburan dan lain sebagainya. Saat ini, masing-masing perusahaan berada dalam
jalur bisnisnya sendiri-sendiri, tetapi dengan adanya kemajuan teknologi
informasi dan fenomena pembentukan rekanan strategis (strategic alliances)
antar beberapa perusahaan, kecenderungannya di masa depan akan terbentuk sebuah
tipe perusahaan pelayanan yang memadukan servis-servis yang biasa dilakukan
perusahaanperusahaan dalam industri pariwisata tersebut. Hal-hal seperti di
atas perlu dicermati dan dipelajari untuk mengantisipasi perubahan-perubahan
yang mungkin terjadi dalam jangka pendek, menengah, atau panjang yang dapat
mempengaruhu infrastruktur teknologi informasi yang ada (karena adanya
perubahan orientasi bisnis).
Competitor Analysis merupakan suatu aktivitas yang harus dilakukan
mengingat bahwa pada dasarnya strategi itu dibuat karena adanya pesaing. Tujuan
dari dikembangkannya teknologi informasi adalah untuk meningkatkan kinerja
perusahaan sehingga dapat menghasilkan produk atau jasa yang cheaper, better,
dan faster dibandingkan dengan produk atau jasa yang dihasilkan kompetitor.
Sehingga jelas bahwa tujuan diadakannya analisa terhadap para pesaing bisnis
adalah untuk melihat seberapa murah, seberapa baik, dan seberapa cepat produk
dan jasa yang ditawarkan perusahaan lain sehingga hal tersebut dapat menjadi
patokan target perusahaan.
Tujuan dipelajarinya I/T Trend adalah agar tidak terjadi kesalahan
dalam pemilihan teknologi yang diterapkan dan dikembangkan di perusahaan. Tidak
semua produk-produk teknologi informasi tergolong baik. Dari sekian banyak
produk yang ditawarkan, lebih banyak yang gagal bertahan di pasaran daripada
yang berhasil.
Perusahaan harus dapat melakukan pemilahan terhadap teknologi mana saja
yang masih dalam tahap percobaan atau perkenalan (infancy/emerging),
perkem-bangan (growth), stabil (mature), dan mulai ditinggalkan (facing out).
Dan dari sekian banyak produk, mana pula yang kira-kira akan menjadi standar di
masa mendatang. Di samping untuk tujuan tersebut di atas, melihat trend dalam
perkembangan teknologi informasi berarti mempelajari kesempatan-kesempatan
(opportunities) baru yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan di masa mendatang,
baik dalam peningkatan revenue, penurunan costs, atau kemungkinan
dikembangkannya bisnis baru.
Hal terakhir yang harus dipelajari adalah konfigurasi dan spesifikasi
dari teknologi informasi yang dimiliki perusahaan saat ini (Existing I/T).
Alasan utamanya adalah karena pada hakekatnya pengembangan teknologi informasi
di masa mendatang dibangun di atas infrastruktur yang dimiliki saat ini
(baseline), bukan membuat sesuatu yang sama sekali baru (paling tidak jika
diputuskan untuk sama sekali tidak menggunakan infrastruktur yang ada sekarang,
tetap saja diperlukan strategi untuk facing out).
Setelah mengetahui output dan input yang dibutuhkan, tahap selanjutnya
adalah aspek-aspek yang harus dipelajari dan dianalisa sebagai dasar pijakan
pembuatan rekomendasi stretegi yang cocok diterapkan. Secara garis besar, ada
dua aspek utama yang harus dicermati: aspek internal dan aspek eksternal.
Di dalam aspek internal, ada
empat hal utama yang harus dianalisa:
1.
Struktur Organisasi – mempelajari fungsi-fungsi apa saja yang ada dalam
organisasi dan bagaimana hubungan keterkaitan antara fungsifungsi tersebut;
2.
Proses dan Prosedur – mempelajari bagaimana proses dan prosedur
penciptaan produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan secara mendetail;
3.
SDM dan Budaya Perusahaan – mempelajari karakteristik manusia sebagai
implementor sistem yang diterapkan perusahaan, terutama halhal yang
melatarbelakangi terbentuknya budaya perusahaan; dan
4.
Sumber Daya dan Infrastruktur Perusahaan – mempelajari sumber
daya-sumber daya yang dimiliki perusahaan seperti asset, keuangan, manusia,
informasi, waktu, dan lain sebagainya.
Mempelajari faktor-faktor internal ini sangat perlu dilakukan karena
pada kenyataannya setiap perusahaan memiliki keunikan tersendiri, yang
membedakannya dengan perusahaan lain. Harap diperhatikan bahwa pada dasarnya
strategi adalah bagaimana meutilisasikan sumber daya-sumber daya yang dimiliki
perusahaan sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan produk atau jasa sesuai
dengan target yang diinginkan. Di dalam aspek eksternal, ada dua faktor yang
harus dipelajari:
1. Produk dan Jasa (Pelayanan), yang merupakan
alasan mengapa sebuah perusahaan didirikan, karena dari penjualan produk dan
jasa inilah pendapatan diperoleh untuk mendapatkan profit atau keuntungan.
2. Pasar dan
Pelanggan, yang merupakan kumpulan dari para calon pembeli produk atau jasa
yang ditawarkan tersebut di atas.
Aspek eksternal ini pun mutlak dipelajari karena tanpa ada produk dan
jasa yang laku dijual di pasaran, perusahaan akan merugi dan jatuh bangkrut.
Apa gunanya memiliki teknologi informasi yang canggih namun tidak ada orang
yang berminat membeli produk atau jasa tersebut? Di pihak lain, banyak sekali
hal yang telah terbukti bahwa keterlibatan teknologi informasi memungkinkan
terciptanya produk-produk atau jasa-jasa baru yang dapat ditawarkan perusahaan
atau memperbaiki produk atau jasa yang sudah ada. Tidak tertutup ada
kemungkinan bahwa teknologi informasi dapat mempengaruhi pasar dan pelanggan.
Mengapa kedua aspek di atas harus dipelajari sehubungan dengan
penyusunan I/T Strategy? Kalau diamati lebih jauh, hanya komponen-komponen yang
berada di dalam aspek internal saja yang dapat dikontrol oleh perusahaan karena
semuanya merupakan milik perusahaan. Sementara di lain pihak, komponen-komponen
pada aspek eksternal berada di luar kendali perusahaan, sehingga perusahaan
hanya dapat bertindak secara pasif dan adaptif (dengan asumsi bahwa tidak ada
praktek monopoli). Namun dilemanya, justru aspek eksternal-lah yang belakangan
ini menjadi sedemikian kuatnya, sehingga merupakan sumber mati hidupnya
perusahaan (ingat istilah-istilah seperti market driven, customer oriented,
customer is a king, service quality, dan lain sebagainya). Sehingga, harus
diperlukan strategi khusus untuk dapat mengantisipasi setiap pergerakan dinamis
yang mungkin terjadi pada komponen-komponen eksternal. Hal kedua yang patut
dipelajari adalah bahwa perubahan pada komponen luar akan merubah
komponen-komponen internal baik secara langsung maupun tidak langsung, karena
sebagai komponen internal, teknologi informasi harus mampu mengantisipasi
perubahan tersebut.
Pada akhirnya semua strategi yang ada harus diimplementasikan, bukan
hanya dijadikan seketar mimpi yang dapat terwujud dapat juga tidak. Untuk
keperluan ini, harus ditunjuk seseorang yang bertanggung jawab atas
implementasi semua rencana tersebut. Untuk perusahaan besar, biasanya akan
ditunjuk seorang CIO (Chief Information Officer). Selanjutnya CIO ini akan
memilih orang-orang terbaik sebagai anggota team pengembangan teknologi
informasi. Sebelum team ini bekerja berdasarkan cetak biru yang telah dibuat,
terlebih dahulu CIO harus menjelaskan visi dan misi team tersebut, beserta
target-target dan ukuran kinerja (performance) yang ingin dicapai. Selanjutnya
CIO tersebut akan mengundang para manajer menghadiri suatu sesi dimana CIO akan
mempresentasikan rencana-rencananya untuk memperoleh dukungan. Terhitung mulai
saat itu, dimulailah perjalanan implementasi teknologi informasi di perusahaan.
B. Tujuan dan Manfaat Strategi TI
Dodi
Nandika, Gatot H. Priowirjanto dan Soekartawi (2007: 11) menjelaskan TIK adalah
istilah yang digunakan untuk menggambarkan cara yang menarik dan inovatif untuk
menyediakan pembelajaran seumur hidup dengan akses global terhadap informasi,
pembelajaran dan dukungan. Dalam hal ini TIK mencakup perangkat komunikasi atau
aplikasi, meliputi: radio, televisi, telepon selular, komputer dan jaringan
perangkat keras dan perangkat lunak, sistem satelit dan sebagainya, serta
berbagai layanan dan aplikasi yang terkait dengan mereka, seperti video
conference dan pembelajaran jarak jauh. Hal senada dikemukakan oleh Anderson
(2010: 4) bahwa TIK mencakup banyak teknologi yang memungkinkan kita untuk
menerima informasi dan berkomunikasi atau bertukar informasi dengan orang lain,
dengan perangkat dan fungsi untuk Capturing (menangkap), interpreting (menaf
sirkan), storing (menyimpan), dan transmitting (mengirimkan) informasi.
Pada
awal perkembangan sejarah peradaban manusia, melalui bahasa manusia bertukar
informasi dan bahasa bisa dikatakan sebagai teknologi. Bahasa memungkinkan
seseorang memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain. Tetapi menjadi
kelemahanya adalah bahasa yang disampaikan manusia melalui mulut ke mulut ini
tidak bertahan lama yaitu melalui ucapan dan selalu berubah-ubah dalam
penyampainya dari satu ke satu mulut lainya. Setelah ucapan itu selesai maka
informasi berada ditangan si penerima. Selain itu juga jangkauan suara
terbatas, sampai jarak tertentu meskipun masih terdengar informasi yang
disampaikan lewat bahasa suara akan terdegradasi bahkan akan hilang.
Perkembangan teknologi
dari pengaruh globalisasi sekarang ini begitu pesat yang diiringi dengan
perkembangan sistem informasi yang berbasis teknologi. Hal ini telah menyebabkan
terjadinya perubahan-perubahan yang begitu cepat di dalam berbagai bidang.
Teknologi informasi dalam hal ini merupakan salah satu tiang penopang
keberhasilan dalam era globalisasi itu (Mulyadi, 1999 dalam Dony 2008).
Kemunculan teknologi mainframe pada dekade 1960-an telah membawa perubahan
mendasar pada proses pengolahan data, yaitu dari proses manual ke proses Bacth
(Batch Processing). Dengan dukungan komputer yang semakin baik, tahun 1970
proses pengolahan data mulai bergerak menjadi system on-line data processing
(Widiatmoko, 2004 dalam Dinar. K, 2006). Menurut (Wreden, 1997 dalam Hendri
2008) penggunaan teknologi dalam perusahaan akan mendukung kegiatan perusahaan
yaitu: 1) meningkatkan produktivitas, 2) mengurangi biaya operasional, 3)
meningkatkan pengambilan keputusan, 4) meningkatkan relationship dengan
pelanggan, 5) mengembangkan aplikasi strategi baru.
Salah satu cara agar
organisasi atau perusahaan dapat bersaing dengan para kompetitornya adalah
dengan menggunakan sistem informasi yang baik. Tidak sedikit organisasi atau
perusahaan yang mengeluarkan dana yang begitu besar dalam investasi sistem
informasi tersebut. Kesuksesan pengembangan sistem informasi sangat tergantung
pada kesesuaian harapan antara system analyst, pemakai (user), sponsor dan
kostumer (Szajna dan Scammel, 1993 dalam Elfreda Aplina, 2003). Demikian juga
(Bodnard dan Hopwood, 1995 dalam Elfreda Aplina, 2003) berpendapat bahwa
perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut
perubahan teknologi, tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional.
Berdasarkan penelitian
dari para peneliti dan praktisi diperoleh hasil bahwa teknologi informasi yang
dimiliki oleh perusahaan merupakan nilai potensial yang dapat digunakan sebagai
salah satu keunggulan kompetitif perusahaan bersangkutan. Infrastruktur
teknologi informasi merupakan alat kompetitif bagi perusahaan dan merupakan
masalah krusial dalam perkembangan keunggulan kompetitif jangka panjang sebuah
perusahaan. Karakteristik unik dari infrastruktur teknologi informasi
menentukan nilai infrastruktur sebuah organisasi. Salah satu karakteristik
infrastruktur teknologi informasi adalah fleksibel dan responsive. (Yusni dan
Clara, 2008).
Teknologi informasi dalam
sebuah organisasi terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, perangkat
telekomunikasi, manajemen basis data, dan teknologi lain yang digunakan untuk
menyimpan data dan membuat data tersedia dalam bentuk informasi kepada pembuat
keputusan. (Daft, 2000 dalam Dinar. K, 2006). Teknologi informasi modern dilandasi
pada pemahaman bahwa sebagian besar aktivitas organisasi melibatkan kelompok
manusia dan karyawan organisasi, atau pemasok dan pelanggan. Agar kelompok
tersebut bekerja sama, sepakat memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan satu
sama lain, mereka harus bisa berbagi informasi. Jadi, banyak perusahaan atau
organisasi menggunakan teknologi informasi menawarkan kemampuan kepada
orang-orang untuk memanfaatkan Komputer mereka dalam rangka menyebarkan
informasi. (Daft, 2002 dalam Dinar. K, 2006).
Ada juga manfaat TI pada bisnis
perusahaan yaitu Lingkungan, organisasional dan faktor teknologi membuat
lingkungan persaingan bisnis yang tinggi, di mana faktor-faktor ini cepat
berubah, yang kadang-kadang caranya tidak dapat diprediksi. Akibat perubahan
yang cepat ini, perusahaan perlu reaksi yang cepat dalam menghadapi masalah dan
peluang yang dihasilkan dari lingkungan bisnis yang baru tersebut (yang
berfokus pada konsumen). Boyett dan Boyett (1995) dalam (Turban, et.all, 2001)
menekankan perubahan dan gambaran yang dramatik ini dengan business pressures.
Untuk dapat sukses (tetap survive) dalam dunia yang dinamis ini, UKM seharusnya
tidak hanya melakukan tindakan-tindakan tradisional seperti lowering cost,
tetapi juga melakukan aktivitas-aktivitas inovasi seperti merubah struktur atau
proses yang disebut sebagai critical responses activities. Aktivitas-aktivitas
tersebut dapat dilakukan di beberapa atau semus proses organisasi. Respon dapat
bereaksi terhadap tekanan yang terjadi atau respon dapat merupakan inisiatif
yang terencana untuk mempertahankan organisasi dengan melawan atau bertentangan
dengan tekanantekanan dimasa yang akan datang. Respon dapat juga merupakan
aktivitas yang mengekploitasi peluang yang diciptakan oleh kondisi yang
berubah. Kebanyakan aktivitas-aktivitas respon ini dapat difasilitasi dengan
baik dengan teknologi informasi (TI) atau Information Technology (IT). Dengan
memiliki, menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi, perusahaan dapat
merespon perubahan lingkungan yang terjadi melalui beberapa kegiatan, antara
lain (Turban, et.all, 2001): 1. Sistem Strategis Sistem strategi memberikan
perusahaan keuntungan yang memungkinkannya untuk meningkatkan pangsa pasar dan
atau laba, untuk dapat bernegosiasi secara lebih baik dengan para pemasok atau
untuk mencegah pesaing memasuki pasarnya. 2. Fokus pada Pelanggan Usaha
organisasional untuk memberikan layanan pelanggan yang sangat bagus dapat
membuat perbedaan dalam menarik serta mempertahankan pelanggan, atau kehilangan
pelanggan yang pergi ke para pesaing. Berbagai alat IT dan proses bisnis
didesain untuk menjaga pelanggan tetap senang. 3. Perbaikan Berkelanjutan
Banyak perusahaan melaksanakan program yang secara terus menerus meningkatkan
produktivitas dan kualitasnya dan program ini difasilitasi dengan IT (misal:
TQM, JIT). Tujuan dasar penggunaan IT dalam perbaikan yang berkelanjutan adalah
untuk memonitor dan menganalisis kinerja serta produktivitas dan mengumpulkan,
membagi dan menggunakan dengan lebih baik pengetahuan organisasional.
4. Menstrukturisasi
Proses Bisnis Menstrukturisasi proses bisnis bisa dilakukan melalui Rekayasa
Ulang Proses Bisnis (Business Process reengineering-BPR): perusahaan secara
fundamental mendesain kembali proses bisnis tertentu (misal: pembelian, utang
usaha, desain produk baru). Perancangan kembali yang radikal tersebut
menyebabkan inovasi besar dalam struktur oeganisasi dan cara perusahaan
menjalankan bisnisnya. Jika dilakukukan dalam lingkup yang lebih kecil daripada
keseluruhan perusahaan proses desain ulang ini disebut restrukturisasi. Dalam
strukturisasi IT berperan dalam menyediakan otomatisasi, memungkinkan bisnis
dilakukan di berbagai lokasi yang berbeda, memberikan fleksibilitas dalm manu faktur,
memungkinkan pengiriman yang lebih cepat ke para pelanggan, dan menciptakan
atau memfasilitasi berbagai model bisnis baru, serta mendukung transaksi cepat
dan nonkertas di antara pemasok, produsen dan peritel.
5. Penyesuaian sesuai
Pesanan dan Massal Produk atau jasa dibuat sesuai pesanan adalah strategi untuk
memproduksi produk dan jasa yang telah disesuaikan. Masalah bisnisnya adalah
bagaimana cara untuk menyediakan penyesuaian dan melakukannya secara efisien
dengan biaya yang cukup rendah. Hal ini bisa diatasi dengan cara mengubah
proses manufaktur dari produksi massal ke penyesuaian massal. Perbedaan antara
produksi massal dengan penyesuaian massal adalah: kalau produksi massal
perusahaan menghasilkan banyak sekali barang yang sama sedangkan penyesuaian
massal perusahaan memproduksi barang dalam jumlah besar tetapi disesuaikan agar
memenuhi keinginan tiap pelanggan. IT dan e-commerce adalah fasilitator ideal
untuk penyesuaian massal, di mana IT dan e-commerce memungkinkan komunikasi
interaktif antara pembeli dengan desainer agar pelanggan dapat dengan cepat dan
benar mengkonfigurasi produk yang diinginkan. Selain itu pemesanan secara
elektronik akan masuk ke fasilitas produksi dalam hitungan menit.
6. Aliasi Bisnis Banyak
perusahaan menyadari bahwa aliansi sangat menguntungkan. Perusahaan
virtual/maya: salah satu jenis aliansi bisnis dengan mitra bisnis beroperasi
melalui jaringan telekomunikasi, biasanya tanpa kantor pusat permanen, untuk
memproduksi suatu produk atau jasa. Dalam hal mengadakan aliansi bisnis, TI
memungkinkan perusahaan untuk dapat melakukan komunikasi dan koordinasi dengan
lebih baik. Sehubungan dengan pengaruh TI pada perkembangan UKM, A. Ridwan
Sinegar (2005) mengemukakan bahwa sejumlah UKM menyatakan bahwa penggunaan
Sistem Informasi (SI)/TI telah membawa perbaikkan yang jelas dalam hal penurunan
biaya dan peningkatan keuntungan. Disebutkan bahwa SI/TI memberikan manfaat
bagi UKM sebagai berikut: 1) memperbaiki produktivitas dan kinerja, 2)
pengawasan operasi internal yang lebih besar, 3) kemungkinan cara-cara baru
dalam pengelolaan, 4) kemungkinan bentuk organisasi baru, 5) nilai tambah
terhadap paket produk/layanan dan 6) membuka pasar yang jauh..
C. Langkah
Langkah Starategi TI
Ada tiga sasaran utama dari upaya penerapan SI/TI dalam suatu
organisasi. Pertama, memperbaiki efisiensi kerja dengan melakukan otomasi
berbagai proses yang mengelola informasi. Kedua, meningkatkan keefektifan
manajemen dengan memuaskan kebutuhan informasi guna pengambilan keputusan.
Ketiga, memperbaiki daya saing atau meningkatkan keunggulan kompetitif organisasi
dengan merubah gaya dan cara berbisnis (Ward and Peppard, 2002). Namun sering
ditemukan bahwa penerapan TI kurang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja
dan kesuksesan bisnis organisasi maupun peningkatan daya saing organisasi. Hal
tersebut terjadi akibat penerapan SI/TI yang hanya berfokus pada teknologinya
saja. Oleh karena itu, cara efektif untuk mendapatkan manfaat strategis dari
penerapan SI/TI adalah dengan berkonsentrasi pada kaji ulang bisnis (rethinking
business) melalui analisis masalah bisnis saat ini dan perubahan lingkungannya
serta mempertimbangkan TI sebagai bagian solusi (Earl, 1992). Permasalahan di
dalam penerapan SI/TI pada suatu organisasi dapat dikatakan sebagai paradoks
produktivitas (Roach, 1994). Dimana didalam penerapan SI/TI sudah
diimplementasikan secara baik, namun dari sisi lain seperti halnya keamanan,
sumber daya manusia, transparansi, dan lain-lain bersifat sebaliknya. Sebagai
contoh Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menginvestasikan sedikitnya Rp. 200
milyar untuk pengadaaan perangkat dan aplikasi SI/TI dengan harapan agar
penghitungan suara hasil pemilu dapat berjalan dengan cepat, akurat dan
transparan. Dalam beberapa hal penayangan hasil perhitungan suara sudah
memenuhi kriteria kecepatan yang diinginkan, namun demikian akurasi dan
transparansi masih menjadi persoalan yang berbuntut pada keraguan terhadap
masih diperlukannya SI/TI dalam pemilu-pemilu berikutnya. Jika ditambahkan
dengan persoalan rentannya sistem keamanan yang melekat pada SI/TI KPU, belum
tersedianya komputer dan jaringan komunikasi secara merata di seluruh Panitia
Pemungutan Suara (PPS) di tingkat kecamatan, serta persoalan manajemen sistem
informasi yang dinilai masih tidak standar, dapat diperkirakan persoalan
paradok produktivitas SI/TI di KPU makin menjadi nyata. Permasalahan lain dalam
penerapan SI/TI adalah investasi SI/TI masih belum berhasil memberikan manfaat
yang diharapkan kepada organisasi (Ward and Peppard, 2002). Pimpinan perusahaan
sering dihadapkan pada kenyataan bahwa belanja modal (capital expenditure)
untuk SI/TI tidak membuahkan hasil hingga nilai tertentu sesuai dengan besarnya
investasi yang telah dilakukan. Perusahaan menggunakan SI/TI untuk pengelolaan
akuntansi dan keuangan, operasional pemasaran, layanan pelanggan, koordinasi antar
kantor cabang, perencanaan produksi, pengendalian persediaan, mengurangi lead
time, melancarkan distribusi dan lain sebagainya. Namun tidak jelas apakah
penggunaan SI/TI semacam ini sudah secara nyata menghasilkan output yang lebih
banyak (Robert Solow dalam McCarty, 2001).
STRATEGI
SI DAN STRATEGI TI
Bila kita mengharapkan agar penerapan TI optimal, dibutuhkan suatu
strategi SI/TI yang selaras dengan strategi bisnis organisasi. Hal ini
diperlukan agar investasi yang dikeluarkan untuk TI sesuai dengan kebutuhan dan
memberi manfaat yang diukur dari pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Earl
membedakan antara strategi SI dan TI (Earl, 1997). Strategi SI menekankan pada
penentuan aplikasi sistem informasi yang dibutuhkan rganisasi. Esensi dari
strategi SI adalah menjawab pertanyaan “apa?”. Sedangkan strategi TI lebih
menekankan pada pemilihan teknologi, infrastruktur, dan keahlian khusus yang
terkait atau menjawab pertanyaan “bagaimana?”. Sebagai contoh suatu organisasi
menerapkan Executive Information System pada bidang pemasaran hal ini
mempengaruhi aliran informasi vertikal dalam perusahaan. Pihak manajemen atas
memiliki akses informasi yang lebih besar dan mengurangi ketergantungan sumber
informasi terhadap manajemen menengah. Jaringan telekomunikasi sebagai aplikasi
teknologi informasi memungkinkan informasi mengalir dengan mudah dan cepat di
antara departemen dan divisi yang berbeda.
Untuk menentukan strategi SI/TI yang dapat mendukung pencapaian visi dan
misi organisasi, maka perlu pemahaman tentang strategi bisnis organisasi.
Pemahaman tersebut mencakup penjelasan terhadap hal-hal berikut : mengapa suatu
bisnis dijalankan, kemana tujuan, dan arah bisnis, kapan tujuan tersebut
dicapai, bagaimana cara mencapai tujuan dan adakah perubahan yang harus dilakukan.
Jadi dalam membangun suatu strategi SI/TI, yang menjadi isu sentral adalah
penyelarasan (alignment) strategi SI/TI dengan strategi bisnis organisasi.
PERENCANAAN
STRATEGIS SI/TI
Perencanaan strategis SI/TI merupakan proses identifikasi portofolio
aplikasi SI berbasis komputer yang akan mendukung organisasi dalam pelaksanaan
rencana bisnis dan merealisasikan tujuan bisnisnya. Perencanaan strategis SI/TI
mempelajari pengaruh SI/TI terhadap kinerja bisnis dan kontribusi bagi
organisasi dalam memilih langkah-langkah strategis. Selain itu, perencanaan
strategis SI/TI juga menjelaskan berbagai tools, teknik, dan kerangka kerja
bagi manajemen untuk menyelaraskan strategi SI/TI dengan strategi bisnis,
bahkan mencari kesempatan baru melalui penerapan teknologi yang inovatif (Ward
& Peppard, 2002). Gambar dibawah menunjukkan skema perencanaan strategis
SI/TI Ward dan Peppard. Beberapa karakteristik dari perencanaan strategis SI/TI
antara lain adalah adanya misi utama : Keunggulan strategis atau kompetitif dan
kaitannya dengan strategi bisnis; adanya arahan dari eksekutif atau manajemen
senior dan pengguna; serta pendekatan utama berupa inovasi pengguna dan
kombinasi pengembangan bottom up dan analisa top down (Pant & Hsu, 1995).
METODOLOGI
PERENCANAAN STRATEGIS SI/TI VERSI WARD AND PEPPARD
Faktor penting dalam proses perencanaan strategis SI/TI adalah
penggunaan metodologi. Metodologi merupakan kumpulan dari metode, teknik, dan
tools yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu. Tujuan dari penggunaan
metodologi dalam perencanaan strategis SI/TI adalah untuk meminimalkan resiko
kegagalan, memastikan keterlibatan semua pihak yang berkepentingan serta
meminimalkan ketergantungan individu, dan lebih menekankan kepada proses dan
sasaran yang ditentukan. Pendekatan metodologi versi Ward and Peppard ini
dimulai dari kondisi investasi SI/TI dimasa lalu yang kurang bermanfaat bagi
tujuan bisnis organisasi dan menangkap peluang bisnis, serta fenomena
meningkatkan keunggulan kompetitif suatu organisasi karena mampu memanfaatkan
SI/TI dengan maksimal. Kurang bermanfaatnya investasi SI/TI bagi organisasi
disebabkan karena perencanaan strategis SI/TI yang lebih fokus ke teknologi,
bukan berdasarkan kebutuhan bisnis. Metodologi versi ini terdiri dari tahapan
masukan dan tahapan keluaran (Ward & Peppard, 2002). Tahapan masukan
terdiri dari: 1. Analisis lingkungan bisnis internal, yang mencakup aspek-aspek
strategi bisnis saat ini, sasaran, sumber daya, proses, serta budaya
nilai-nilai bisnis organisasi. 2. Analisis lingkungan bisnis eksternal, yang
mencakup aspek-aspek ekonomi, industri, dan iklim bersaing perusahaan. 3.
Analisis lingkungan SI/TI internal, yang mencakup kondisi SI/TI organisasi dari
perspektif bisnis saat ini, bagaimana kematangannya (maturity), bagaimana
kontribusi terhadap bisnis, keterampilan sumber daya manusia, sumber daya dan
infrastruktur teknologi, termasuk juga bagaimana portofolio dari SI/TI yang ada
saat ini. 4. Analisis lingkungan SI/TI eksternal, yang mencakup tren teknologi
dan peluang pemanfaatannya, serta penggunaan SI/TI oleh kompetitor, pelanggan
dan pemasok. Sedangkan tahapan keluaran merupakan bagian yang dilakukan untuk
menghasilkan suatu dokumen perencanaan strategis SI/TI yang isinya terdiri
dari: 1. Strategi SI bisnis, yang mencakup bagaimana setiap unit/fungsi bisnis
akan memanfaatkan SI/TI untuk mencapai sasaran bisnisnya, portofolio aplikasi
dan gambaran arsitektur informasi. 2. Strategi TI, yang mencakup kebijakan dan
strategi bagi pengelolaan teknologi dan sumber daya manusia SI/TI. 3. Strategi
Manajemen SI/TI, yang mencakup elemen-elemen umum yang diterapkan melalui
organisasi, untuk memastikan konsistensi penerapan kebijakan SI/TI yang
dibutuhkan. Beberapa teknik/metode analisis yang digunakan dalam perencanaan
strategis SI/TI pada metodologi ini, mencakup analisis SWOT, analisis Five
Forces Competitive, analisis Value Chain, metode Critical Succes Factors,
metode Balanced Scorecard, dan McFarlan’s Strategic Grid.
METODE DAN TEORI ANALISIS PERENCANAAN
STRATEGIS SI/TI
Analisis SWOT Analisis SWOT akan dipetakan dari hasil analisis
lingkungan. Kekuatan diidentifikasikan dengan tujuan untuk mengetahui apa saja
kekuatan organisasi untuk dapat meneruskan dan mempertahankan bisnis. Dengan
mengetahui kekuatan yang dimiliki organisasi akan dapat mempertahankan dan
bahkan meningkatkan kekuatan sebagai modal untuk dapat bersaing.
Mengidentifikasi kelemahan bertujuan untuk dapat mengetahui apa
kelemahan-kelemahan yang masih ada, dan dengan mengetahui kelemahan tersebut,
maka perusahaan dapat berusaha untuk memperbaiki agar menjadi lebih baik.
Kelemahan yang tidak atau terlambat teridentifikasi akan merugikan bagi
perusahaan. Oleh karena itu dengan semakin cepat mengetahui kelemahan, maka
perusahaan juga dapat sesegera mungkin mencari solusi untuk dapat menutupi
kelemahan tersebut. Dengan mengetahui peluang, baik peluang saat ini maupun
peluang dimasa yang akan datang, maka perusahaan dapat mempersiapkan diri untuk
dapat mencapai peluang tersebut. Berbagai strategi dapat disiapkan lebih dini
dan terencana dengan lebih baik sehingga peluang yang telah diidentifikasi
dapat direalisasikan. Berbagai jalan untuk dapat mewujudkan peluang/kesempatan
dan mempertahankan kelangsungan bisnis organisasi tentunya akan mengalami
banyak ancaman. Ancaman yang dapat teridentifikasi dapat dicarikan jalan
keluarnya sehingga organisasi dapat meminimalkan ancaman tersebut.
Critical Success Factor (CSF) Analisa CSF merupakan suatu ketentuan dari
organisasi dan lingkungannya yang berpengaruh pada keberhasilan atau kegagalan.
CSF dapat ditentukan jika objektif organisasi telah diidentifikasi. Tujuan dari
CSF adalah menginterpretasikan objektif secara lebih jelas untuk menentukan
aktivitas yang harus dilakukan dan informasi apa yang dibutuhkan. Peranan CSF
dalam perencanaan strategis adalah sebagai penghubung antara strategi bisnis
organisasi dengan strategi SI-nya, memfokuskan proses perencanaan strategis SI
pada area yang strategis, memprioritaskan usulan aplikasi SI dan mengevaluasi
strategi SI.
McFarlan
Strategic Grid
McFarlan strategic grid digunakan untuk memetakan aplikasi SI
berdasarkan konstribusinya terhadap organisasi. Pemetaan dilakukan pada empat
kuadran (strategic, high potential, key operation, and support). Dari hasil
pemetaan tersebut didapat gambaran konstribusi sebuah aplikasi SI terhadap
organisasi dan pengembangan dimasa mendatang (Ward and Griffith 1996).
Analisa Value Chain Analisa Value Chain dilakukan untuk memetakan
seluruh proses kerja yang terjadi dalam organisasi menjadi dua kategori
aktivitas, yaitu aktivitas utama dan aktivitas pendukung. Mengacu pada dokumen
organisasi yang menyebutkan tugas dan fungsi setiap unit kerja berdasarkan
pengamatan yang dilakukan terhadap proses kerja yang terjadi di masing-masing
unit kerja
Balanced Scorecard Balanced Scorecard pertama kali dipublikasikan oleh
Robert S. Kaplan dan David P. Norton pada tahun 1992 dalam sebuah artikel yang
berjudul ”Balanced Scorecard – Measures That Drive Performance”. Balanced
Scorecard pada awal diperkenalkan adalah merupakan suatu sistem manajemen
penilaian dan pengendalian yang secara cepat, tepat, dan komprehensif dapat
memberikan pemahaman kepada manajer tentang performance bisnis. Kaplan dan
Norton telah memperkenalkan Balanced Scorecard pada tingkat organisasi
enterprise. Prinsip dasar dari Balanced Scorecard ini adalah titik pandang
penilaian sebuah perusahaan hendaknya tidak hanya dilihat dari segi finansial
saja tetapi juga harus ditambahkan ukuran-ukuran dari perspsektif lainnya
seperti tingkat kepuasaan customer, proses internal dan kemampuan melakukan
inovasi. Menurut Kaplan dan Norton, Balanced Scorecard didefinisikan sebagai
berikut : ”…a set of measure that’s gives top manager a fast but comprehensive
view of the business, includes financial measures that tell the results of
actions already taken, complements the financial measures with operational
measures on customer satisfaction, internal process and the organization’s
innovation and improvements activities – operational measures that are the
drivers of future financial performance”. Balanced Scorecard lebih dari sekedar
sistem pengukuran taktis atau operasional. Perusahaan yang inovatif menggunakan
scorecard sebagai sistem manajemen strategis, untuk mengelola strategi jangka
panjang dan menghasilkan proses manajemen seperti :
1.
Memperjelas dan
menerjemahkan visi dan strategi.
2.
Mengkomunikasikan
dan mengkaitkan berbagai tujuan dan ukuran strategis.
3.
Merencanakan,
menetapkan sasaran, dan menyelaraskan berbagai inisiatif strategis.
4.
Meningkatkan umpan
balik dan pembelajaran strategis.
Perencanaan Strategis SI/TI digunakan untuk menyelaraskan antara
kebutuhan strategi bisnis dan strategi SI/TI untuk mendapatkan nilai tambah
dari suatu organisasi dari segi keunggulan kompetitif. Proses identifikasi
kebutuhan informasi Perencanaan Strategis Sistem Informasi dimulai terlebih
dahulu dari lingkungan organisasi yang memuat visi, misi, dan tujuan
organisasi, dilanjutkan kepada identifikasi terhadap lingkungan internal dan
eksternal organisasi, serta identifikasi internal dan eksternal SI/TI lingkungan
organisasi, yang kemudian proses penentuan peluang SI/TI dapat dilaksanakan
ketika kebutuhan informasi yang didrive dari tujuan organisasi telah semuanya
teridentifikasi. Hasil dari Perencanaan Strategis SI/TI ini menjawab
permasalahan pemanfaatan SI/TI suatu organisasi, adapun hasil identifikasi dari
perencenaan strategis sistem informasi adalah terbentuknya portofolio aplikasi
SI/TI.
DAFTAR
PUSTAKA
https://d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net/34565295/Manajemen_Sistem_Informasi.pdf?1409278279=&response-content-disposition=inline%3B+filename%3DPENGA_N_TA_R_KONSEP_DASAR_I_I_N_FO_R_M_A.pdf&Expires=1603934656&Signature=NCcxQw8z94Vs9r09fxGGEIA-9-Cn44Jb6txQcT0F2OUzszm-Ly~0Jo7udyZZlqnIAMmQm0ZYNz4Tf1MSaie4GOqCcgJ6lA06Ou9jwcbqF8bpCvlfOdml2cDeue0dluZErsKMhNuvQDW7WhNszREqotUGVSyybSDLV63~P6xibpN1z42MVCWAbN6DcXfom3O-R3k5CpBPZpJ-KtbdKTF-AILzpJN1Nu1W3rfu50oTrsC984HdEG7nClvPJjndeuO2Tm5QPfnDahrLGwRsPmy~gkl72XC9JlPq6yYqgppSYVwKfqoasgPeMBao51Yqa8Yz6Wz~gDVX9ekNpw6VHZRFtw__&Key-Pair-Id=APKAJLOHF5GGSLRBV4ZA
( KUMPULAN ARTIKEL DR.
RICHARDUS EKO INDRAJIT S T I M I K P E R B A N A S R E N A I S S A N C E C E N
T E R ).
https://journal.uny.ac.id/index.php/jptk/article/view/3255/2737
https://www.hestanto.web.id/manfaat-teknologi-informasi-bagi-perusahaan/#:~:text=Menurut%20(Wreden%2C%201997%20dalam%20Hendri,5)%20mengembangkan%20aplikasi%20strategi%20baru.
Comments
Post a Comment